Senin, 28 Agustus 2017

Seharusnya Kita Bertemu di Stasiun Tugu Sore Itu (Wiranagara Re-Post)

Atas nama hati yang dengan mudahnya kau curi sejak pertama kali pesanmu masuk di akun Instagram-ku, aku masih bisa melihat namamu berlarian di tangkai penasaran. Lebih lekat dari sekedar pertemuan, bibirku ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Terutama hebatnya kau melambungkan langit di atap duka dan menjadikannya hujan tanpa melewati mendung yang seharusnya ada. Bila pematah hati adalah sebuah pekerjaan, aku adalah deadline yang paling mudah kau selesaikan. Dan kau resmi menjadi pematah hati paling profesional.

Ketiadaan di tempat yang kau janjikan.(source:wiranagara.id)

Sosok sepertimu tidak akan pernah mau peduli akan hati yang terlalu lama sendiri. Hati yang mudah tergoda paras dengan paket spesial senyum manis tatap sayu. Hati yang mudah gembur oleh berjuta keriangan yang kau titipkan lewat rintik hujan, menyatu sempurna dengan degub jantung yang kehilangan irama. Kau tidak sadar, nadiku telah bergetar. Hingga aku lupa satu hal bahwa hari ini semua yang terlihat sering tidak sesuai ekspektasi.

Untuk orang-orang yang terbiasa melihat dunia lewat kaki-kakinya yang mengecup tanah dari pagi datang hingga senja enggan hilang, perkenalan di sosial media adalah bianglala dengan poros putar yang mengambang. Ia terlihat nyata padahal di belakang itu semua ribuan maksud tersimpan hingga cerah mentari pun sulit menguraikan. Apa yang terbilang iya belum tentu iya, begitu pun sebaliknya. Kita terjebak kebingungan yang justru semakin membuat kita ketagihan. Seolah-olah kita mampu memecahkan teka-teki, lalu kita lupa bahwa dunia maya selalu punya topeng tersembunyi.

Aku berkata demikian karena pernah kutemui muda-mudi yang dengan romantis menuliskan 'Terima kasih sudah menampung lelahku, wahai tempat pulang. Five years and still counting...' pada caption instagram-nya di bawah foto berdua. Tetapi saat bertemu mereka malah lebih fokus melihat layar daripada saling berbagi kabar. Jadi apanya yang mau di-counting? Waktu menuju putusnya?

Namun di kesempatan lain kutemui muda-mudi yang begitu heboh membicarakan apa saja. Mereka saling menatap dan mendengarkan dengan sesekali sang perempuan memasang ekspresi manja yang langsung ditanggapi gagah oleh lelakinya. Manis sekali. Kulacak akun maya kedua orang itu dengan bertanya ke orang-orang di sekitarku, dan ternyata mereka tidak pernah sekali pun memamerkan hubungan mereka di media sosial! Hebat. Mereka benar-benar menikmati cinta berdua. Tanpa 'unch unch maaci ayang', tanpa lilin-lilin anniversary yang tersusun rapi membentuk hati di setiap bulan, juga tanpa balon emas berbentuk huruf yang tertempel di dinding kamar hotel mahal dengan taburan kelopak mawar di ranjang.

Sayangnya kita sulit sejernih itu saat jatuh cinta. Ada banyak permaafaan yang mengurung nalar, kita sudah lebih dulu terbuai oleh kisah kasih fana yang memenuhi kepala. Seperti sapaan di pesan masuk Instagram dari perempuan yang membuatku berpikir dia benar-benar akan menemuiku di stasiun Tugu sore itu. Hati hanya bisa menyangka, waktu yang menentukan luka. Tepat saat langkahku memeluk jalanan Jogja, tidak satu pun kata keluar dari ketikan jemarinya. Kotak masuk ponselku diam dan tiap deringnya seakan puasa. 

Sosok sepertimu tidak akan pernah mau peduli akan hati yang terlalu lama sendiri. Hati yang tumbuh oleh mendung yang menjadikannya mampu mengelola kecewa. Hati yang terlampau subur untuk sekedar kau ganggu lewat jejak kecil yang tak seberapa. Kau mungkin lupa, situasi yang menyakitkan mampu berubah lewat kata-kata. Hingga nantinya kau berganti menerka kemungkinan dari kenyataan setelah berpijarnya rindu dalam terbit kehilangan.

Kopiku habis, namun kepalaku semakin penuh tentangmu...

-----

Ditulis di Blanco Coffee, kedai kopi yang seharusnya menjadi saksi pertemuan kita setelah kau menemuiku di stasiun Tugu sore itu. Benar katamu, kopinya enak, yang pahit hanya ketiadaan maafmu setelah manis yang menguap tanpa temu...

-----

Bersatulah Kaum Patah Hati (Wiranagara Re-Post)

Kepada yang lemah raganya juga remuk hatinya..

Mungkin sekarang kau sedang berdiam di kostan sembari menatap tugas dan laporan yang berjam-jam kau biarkan menumpuk tanpa ada niat mengerjakan. Mungkin juga kau sedang keluar rumah sekedar mencari udara segar untuk mengisi rongga hatimu yang lama berdebu. Atau mungkin saja kau malah sedang sibuk mengurai perintah bos demi gaji per bulan yang seringnya habis tanpa bisa kaujelaskan. Apapun yang sedang kau lakukan, berusahalah untuk menjaga konsentrasi, sebab sekali saja kau lengah dan memutuskan membuka sosial media, hancurlah kau digilas kenyataan dari masa-masa terlewatkan.

Satu meja berjuta luka. Dipotret oleh: @lukmanmuh (source:wiranagara.id)

Bagaimana tidak? Seseorang yang dengan merdunya sering mengeluh manja itu kini semakin gencar memberitahu dunia akan kebahagiaannya. Lewat pose ngelendot lucu muncu-muncu di bahu, selfie di pantai dengan bias kekasih baru di kacamata yang seakan-akan tidak sengaja, atau foto resmi gaya lembar ijazah dari sang lelaki dan sang perempuan yang ditata sebelahan di meja kantor dengan bumbu caption mau menikah. Ya, seseorang yang pernah kau antarkan ke burjo malam-malam, menemani dia belanja dari pagi buta, mengelus punggungnya saat homesick itu kini tengah tersenyum menuju mahligai rumah tangga.

Kepada yang utuh namun rapuh tegar tetapi hambar..

Sedang apa? Sudah makan? Semalam tidur jam berapa? Nanti ada waktu? Jangan sibuk banget ih! Mau ketemu, aku rindu! Tidak, kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa rutinitas di pesan masuk ponselmu itu sudah musnah. Kau hanya bisa membacanya sebagai kesombongan semu yang kau gunakan untuk menjawab pertanyaan teman-teman. Mau seakrab apapun kau kini dengan mantanmu tetap saja dia sudah bukan milikmu, mau serenggang apapun hubunganmu sekarang tetap saja dulu dia yang paling kau sayang. Ikhlas belum bisa, balikan takut binasa.

Kau mulai menuju kafe atau kedai kopi atau pasar malam atau antrian BPJS atau apapun itu asal ramai dan bisa meredakan sepi di benakmu saat ini. Karena ke gunung kau malas packing, ke pantai kena panas langsung pusing, ke luar negeri belum fasih berbahasa asing. Tragis. Setiap ruang ingin kau jelajahi lebih jauh, berharap temukan keajaiban yang membuat sakit hatimu sembuh. Namun apa daya, jelajah langkahmu hanya membawamu kembali ke rentetan panjang memori. Depan gerbang kostan yang menampung keriyaan sehabis menikmati konser, atap toko yang kau gunakan untuk berteduh sehabis menonton film di bioskop, juga sekre hima/unit yang jadi saksi kangen-kangenan berkedok tanya jawab basa-basi tentang kepanitian. Kau tidak bisa pergi, kenangan itu akan terus menyapamu lagi dan lagi.

Kepada yang pingine move on malah mati alon-alon..

Begitulah beberapa contoh secuil kisah dari hati yang belum mampu berpindah. Satu masa yang justru selalu kita hindari. Kita lupa untuk menikmatinya, kita terlalu sibuk menolak semua hal yang merenggut bahagia. Santai saja, aku pun turut merasakan hal yang sama. Bingung mau kemana, membuka sosial media hanya cemburu yang menyapa, mendekati sosok baru tak tahu harus memulai dari mana. Payah! Tos dulu lah! :')

Namun pernahkah kau membayangkan suatu hari penantianmu akan berhenti, doa-doamu terkabul, sosok itu datang dan jauh lebih baik dari semua khayalanmu selama ini. Datang dengan kesopanan, membawa ketentraman, memelukmu dalam rasa nyaman. Seikat bunga? Seladang penuh dia persembahkan wanginya! Kau mengusap matamu terus menerus hingga kelopak matamu perih oleh bahagia. Dia nyata, benar-benar nyata! Sakit di hatimu sembuh, hidupmu kembali utuh. Langit berubah merah muda, menaungimu dalam kelembutan awan, kemudian jatuh lewat tetes demi tetes senyuman. Asyik ya?

Asyik ndasmu.

Memangnya kamu sudah merasa pantas mendampingi dia? Mandi saja malas, kamar berantakan, tissue berserakan. Begitu yang namanya siap? Setelah resmi yang-yangan kau dan dia akan berbagi muka di setiap unggahan sosial media loh, memangnya kamu sudah siap menurunkan gengsi? Sungguh suatu hal yang menyebalkan bila setelah berpasangan namun yang kau unggah tetap selfie-selfie goda sana sini. Asli. Ingat; Irama akan merdu jika ada keteraturan, kematangan komposisi, juga musik yang berpadu serasi. Kamu? Sudahkah berpadu dari pikiran, tubuh, sampai perasaan dalam keserasian harmoni lewat komposisi matang tanpa bayang-bayang?

Maka bersatulah kaum patah hati. Sebelum matahari meruntuhkan mendung di matamu, ingatlah kita pernah sama-sama bingung menentukan hidup kemana harus menuju. Jangan lupakan orang-orang yang selalu ada di setiap kau meneteskan air mata. Berterima kasihlah kepada para musisi atas lagu-lagu sendu ciptaannya yang tak pernah absen mengisi sepi. Cium tangan para barista yang lewat racikan kopinya membuatmu mampu melewati hari tanpa perlu minder akan pahit yang hinggap di hati. Peluk erat buku-buku kesayangan yang setiap kata bijaknya membuatmu bisa sejenak menunda luka. 

Karena suatu hari yang pergi akan digantikan, 
saat lalu telah kau ikhlaskan dan hatimu dipenuhi kesiapan.

Kepada kita semua, mari bersulang lara, mari berbagi tawa... 

Kuliah Akan Berakhir, Kenangan Tetap Terukir (Wiranagara Re-Post)

Bila kau sedang berteduh di suatu tempat dengan sesekali mengunggah instastories atas bahagia yang selalu kau pamerkan, sampaikan salamku kepada seseorang di sebelahmu yang selalu kau banggakan. Malam ini gerimis sedang merintikkan rindu di ingatanku, menuju waktu-waktu selepas Magrib saat aku masih rutin menjemputmu di depan gerbang, menyalami bapak kostan, menunggu kau keluar kamar, lalu kita berdua melaju di jalanan sembari berdebat menu apa yang mau kita makan. Pertanyaanku masih sama, apa aku akan kau kenang sebagai kisah indah semasa kuliah atau hanya sekedar pengisi sepi karena yang kau tunggu tidak pernah ada waktu?

Gerbang kostan, saksi tunggu juga temu dalam rindu.(source:wiranagara.id)

Karena tidak ada rindu yang suka dibiarkan menunggu maka aku selalu datang tepat waktu untuk menjemputmu. Kadang kau sudah siap di depan pintu, walau seringnya kau mengabariku untuk menunggu sebentar karena masih siap-siap. Entah siap-siap seperti apa yang kau maksud karena apapun yang kau rias atau kenakan akan selalu terlihat cantik di mataku. Sudahlah, aku tidak terlalu memusingkan penampilanmu, aku hanya tidak enak kala berbasa-basi dengan bapak kostanmu itu. Kau pasti ingat suatu sore saat kita di beranda dan kau tertawa begitu keras hingga aku dimarahi dan hampir diusir dari situ? Juga keributan malam saat kau memintaku mengantarkan susu coklat yang ternyata kau hanya ingin sekedar bertemu denganku? Ah, sepertinya kau lupa, atau aku yang terlalu dalam mengenangmu.

Lulus lebih lama dari teman seangkatan membuatku semakin terbiasa menemui perpisahan, termasuk saat kau wisuda lebih dulu. Ya, untuk seorang kakak tingkat yang kerap jadi buah bibir sekaligus asisten praktikum tercantik buat apa berlama-lama di kampus. Nilai jelas bagus, PKL dan KKN tepat waktu, juga banyak lelaki yang selalu rela berkorban untukmu. Termasuk aku yang selalu mau kau repotkan walau setelahnya tak pernah ada kisah berkelanjutan. Intinya, bisa dekat saja sudah membuatku bahagia apalagi bisa memilikimu lebih lama. Bisa dibilang aku ingin mencintaimu seperti Dimas mendamba Mbak Ruroh. Tulus, sederhana, apa adanya, walau perasaan itu belum jelas balasannya. 

Kini di saat kau mulai sibuk dengan segala urusan pekerjaan dan liburan, bahkan pernikahan, aku baru saja akan merampungkan urusan perkuliahan. Tepat saat semua ini tertulis aku sedang bersiap untuk pendadaran, fase terakhir sebelum berkumpul dengan yang lainnya di yudisium kemudian dirayakan di wisuda. Pada akhirnya segala yang terjadi di masa lalu hanya bagian dari pembelajaran. Namamu mungkin tak tertulis dalam skripsiku, namun tentangmu selalu menjadi daftar pustaka di hidupku. Sebab setiap lirik dari lagu kesukaanmu kini selalu terngiang di kepalaku, menusuk jantung, meletus dengan luapan lara yang tak terhitung.
Oh, you. You turn my whole life so blue 
drowning me so deep, I just can't reach myself again 
Oh, you. Succesfully tore my heart 
now it's only pieces, oh nothing left but pieces of you...
(Ten2Five - You)
Tak perlu menyesal dan bersedih, dulu saat kita dekat juga kau jarang mengucap terima kasih. Santai saja, aku hanya seorang melankoli yang mudah terhanyut memori saat melintasi sudut-sudut jalan yang dulu pernah bersama kita lewati. Selamat menjadi kamu yang kamu mau, bila suatu hari kau membuka galeri dan kau temukanku bersebelahan denganmu, crop saja fotoku asal tidak aku dari hatimu.

Transit (Wiranagara Re-Post)

Bila kau sedang dekat dengan seseorang, menjadi yang pertama dikabari saat dia sedang ada masalah, menjadi saksi berbagai prestasi yang tak henti dia ceritakan, atau menjadi kawan penghabis waktu dari senja hingga ufuk rindu, maka ketahuilah bahwa hatimu sedang berada dalam bahaya. Lewat tulisan ini aku hadir bukan untuk menyelamatkanmu, melainkan membawa kesadaranmu menyelami luka lebih dalam. Sebab kedekatan sering kali mematikan nalar, membius lewat kenyamanan, membunuh lewat pujian. Ketahuilah, sekali pun dia tak pernah menginginkanmu. Dia hanya benci sendiri, keangkuhannya butuh ditemani, dan hatinya butuh disanjung atas berbagai kisah perih yang pernah dia lewati.
Senja menjemput malam, hati menjemput kelam.(source:wiranagara.id)
Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?

Mari kita telaah lebih jauh. Suatu hubungan indah bila yang terjadi adalah saling, bukan sekedar yang paling. Kau dan dia sadar untuk menjalani peran dengan aktif dan partisipatif. Setiap cerita, kejadian, gagasan, mimpi, pencapaian, hingga lelah seharian, kau dan dia bergantian mengisi kesepian. Saat menangis, tertampunglah air mata. Begitu pula saat bahagia, terbagi dengan bijaksana. Tidak ada yang berlebihan. Semua terbagi secara optimal tanpa mengerdilkan potensi hangatnya kebersamaan. 
Lalu bila kau ketahui tidak pernah ada kesempatan sama saat kau dan dia duduk di satu meja, sudah sepantasnya kau bunyikan sirine tanda bahaya. Berjam-jam kau dengarkan keluh kesahnya, menanggapi hal-hal asing yang sebenarnya kau tak begitu peduli, membawanya ke tempat-tempat menenangkan, memberi rasa aman, menyiapkan jaket saat dia kedinginan, antar jemput kostan tepat waktu, hingga melewatkan pertemuan besar hanya untuk dia seorang. Iya, untuk dia yang bahkan sekali saja kau mencoba membuka topik tentang dirimu dia langsung mengalihkan ke pembahasan lain! Gila, sengeri inikah kau mendamba hati yang belum tentu bisa kau miliki?
Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?
Begini, tahan dulu emosi. Coba buka rentetan chatting-mu dengannya, baca. Siapa yang paling meledak-ledak saat menceritakan sesuatu? Berapa alinea perbandingan saat ada pembahasan? Siapa yang paling berdebar menunggu balasan hingga jeda bernapas saja jadi sebuah masalah? Dan siapa yang paling terpukul kala setiap pesan berganti tak pernah ditanggapi? Lihat baik-baik. Bila ada yang terlihat paling dominan, maka ada yang harus dilakukan. Ah, begini saja. Siapa yang meminta waktu lebih? Yang tak mau tahu urusan orang, pokoknya detik itu juga tidak boleh ada yang lebih penting dari dirinya. Siapa? Ayo, coba, siapa? Begitu ponsel berdering harus segera diangkat dan tidak boleh ada suara lain selain yang menelpon tersebut. Kau tahu itu siapa, kau tahu semua itu kenapa, kau tetap bertahan? Ya, kau sering menyebutnya cinta.
Saat kau dibutuhkan kau harus segera datang, ketika kau butuh pertolongan pesanmu seakan menghilang. Tidak lama kemudian kau temukan pesan berhias maaf dan ajakan ketemuan, atau minimal diminta menemani makan. Lagi-lagi kau harus mendengar ceritanya dan dengan dalih tak enak hati kau tetap setia untuknya. Saking seringnya kau ada untuknya sehari tak direpotkan seperti ada yang kurang. Kau mulai menanyakan kabarnya, dia tanggapi dengan menanyakan posisi, kau sudah siap berangkat, lalu dia menghilang lagi. Ini yang paling menyita logika berpikirku. Kenapa bisa ada seseorang yang mengajak bertemu, begitu sudah siap untuk ditemui, tiba-tiba dia tidak bisa dihubungi? Itu kenapa? Kok ada sih orang-orang yang memainkan khawatir sebegitu hebatnya?
Ambil kendaraanmu segera, terutama yang sering kau gunakan untuk mengantar jemput raganya. Telusuri semua tempat di kotamu. Lihat, di situ, iya, di kedai kopi, warung makan, cafe hits, angkringan, burjo, kantin kampus, tempat-tempat yang pernah kau sangka akan menjadi gerbang terbukanya hatinya untukmu itu hanya sekedar saksi bisu. Apa? Suap-suapan? Saling sentuh hidung? Cubit pipi? Membaca garis tangan masing-masing? Saling menatap lama sambil tersenyum? Senggol-senggol manja? Itu hanya ada di sekitarmu. Sudahlah. Dia hanya benci sendiri, bukan ingin dilengkapi.
Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?
Bagaimana? Nikmat bukan rasanya bertahan dalam kesakitan? Mantap betul. Hebat loh itu hatimu bisa bertahan begitu lama menyaksikan tumbuh kembang sakitnya. Tunas muncul, bunga semerbak harum, matang buah sedap nan ranum. Kau yang merawatnya, menyirami setiap hari tanpa mengeluh, memupuk dengan sabar, membanggakan ke setiap orang, kau unggah di instastories, kau kicaukan di twitter, kau jadikan kebanggaan di Path, hingga tiba waktu panen, kau memetiknya namun bukan kau yang merasakan manisnya.
Dia tidak mencintaimu. Dia hanya sedang kesepian dan kebetulan ada kamu.
Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan.
---
Ditulis untuk merangkul kaum "curhatnya sama siapa, jadiannya sama siapa". Tetaplah kuat dan saling menguatkan, sedihmu jangan ragu untuk dibagi, sebab patah hatimu tak pernah sendiri.

Peluk erat, dekap mesra.
Wira Nagara.

Takjil (Wiranagara Re-Post)

Sudah separuh bulan Ramadhan berlalu dan belum kutemui wajah manismu mengendap di cangkir kopiku. Tidak ada kemungkinan yang bisa kutakar dari kenangan. Hari berlalu sebagai kesibukan yang menyublim bersama udara untuk menyatu bersama namamu yang masih kuhirup di antara bianglala masa lalu. Berputar namun tak bergerak. Kau masih menjadi poros dari setiap langkahku yang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan. Sampai di suatu senja aku teringat seplastik es buah yang diikat karet merah muda sebagai menu buka puasa, dengan cinta yang kita nikmati dari sedotan yang sama.
Kopi malam ini, pahit yang selalu menemani.(Source:Wiranagara)
Kubiarkan diriku memaku di hadapan jendela, menatap pola kopi yang tertinggal di bibir gelas, sembari menasbihkan tanya dalam pilu. 
Apa kabar, kamu? 



Di antara lampu kendaraan yang melintas dari balik jendela, aku teringat lingkar tangan kirimu yang memeluk pinggangku pada perburuan takjil senja itu. Tangan kananmu bergerak bebas. Mencubit lenganku, memukul pelan kepalaku dari belakang, juga menunjuk ke sudut-sudut jalan sambil kita berdebat kemana kita akan berhenti. Jujur, bersamamu yang kuinginkan hanyalah melaju. Kemana saja, asal telinga dan mataku berhias senyum dan tawamu. Lalu rengekanmu membuyarkan lamunan dan kita memutuskan untuk berbuka di pinggir jalan, sembari menghitung daun-daun gugur dan menikmati kepak sayap burung menghias surya yang tenggelam. Apakah takjil favoritmu masih risoles, kue lapis, dan es buah tanpa irisan roti? Yang dulu pernah kita nikmati, yang kini aku kenang sendiri.

Malam pun kembali menyembunyikan bintang, menandai kau sebagai pusat terang. Menyala di hatiku, hangat, mencairkan rindu yang lama membeku. Mengulang semua cerewetmu sehabis tarawih di kedai kopi tempat biasa kita bertemu. Membahas cabai yang kurang pedas di risolesmu, atau antrian di tukang es yang lebih panjang dari oktaf suaramu. Kau masih menyanyi, kan? Jangan berhenti, ya. Aku suka mendengar sayup nyanyianmu yang membuatku tetap terjaga saat kita membelah bising jalanan. 

Kemudian kau kembali mencubit lenganku berulang kali, memencet hidungku, dan menatap tajam kedua mataku untuk menyampaikan pesan jangan lagi terlambat menjemputmu saat sahur. Aku cuma bisa tertawa menanggapi ketusmu itu, lucu. Entahlah, aku selalu suka melihatmu cemberut. Kau jadi lebih lepas bercerita tentang banyak hal, diselipi tawa yang memenuhi ruangan, kau adalah ratu yang setiap tingkah lakunya selalu kuterima menetap di singgasana. Sebelum akhirnya aku tersadar pipimu yang menggembung saat cemberut itu kini sudah mendarat di telapak tangan yang baru. 

"Di sini, kembali,  
kau hadirkan ingatan 
yang seharusnya kulupakan, 
dan kuhancurkan adanya..."

Bersama lagu Rocket Rockers aku menulis kisah ini sebagai ucapan selamat atas rencana pernikahanmu yang tinggal menghitung hari. Terima kasih sudah memberiku ingatan Ramadhan terbaik di masa kuliah, dan semoga di peluknya kelak kau tetap bisa berbagi kisah. Karena cerewetmu itu yang membuatku betah menikmati waktu.
Semoga kekasihmu mampu memilihkan cabai yang tepat untuk mengunyah risoles favoritmu, sebab rasa pedas yang kau suka itu sudah lebih dulu menggores air mataku.

"Letih di sini, 
Ku ingin hilang ingatan..."

Sabtu, 10 September 2016

Apa Kabar BlackBerry di September 2016?


Hasil gambar untuk berita blackberry
Smartphone BlackBerry adalah ponsel pintar terpopuler dan terfavorit pada zamannya, kita semua tahu itu. Namun seiring dengan muncul dan berkembangnya Operating System (OS)#Android, maka smartphone Android pun perlahan-lahan mulai mengalami penurunan dan kini pun sudah tak bertaji lagi.
Saya sendiri adalah salah satu orang yang mengalami dua periode jaya dan buruk dari #BlackBerry. Sempat menggunakan smartphone BlackBerry yang saat itu yang saya beli dengan harga yang cukup mahal, kini ponsel pintar asal pengembang dari Kanada ini pada akhirnya harus saya jual waktu itu dengan harga yang sangat murah.
Dan dari pembelian BlackBerry sendiri saat itu kemudian saya gunakan untuk menambah tabungan saya guna membeli smartphone Android. Ya, kehadiran ponsel Android memang mau tak mau memberikan perubahan besar pada penjualan BlackBerry secara keseluruhan. Walhasil kejayaan smartphone BlackBerry pun saat ini sudah hampir diujung tanduk.

2016, BlackBerry Pangkas 35 Persen Karyawan

Menurunnya penjualan BlackBerry bahkan membuat pusat harus memangkas sejumlah besar karyawannya. Pada awal Februari 2016 beberapa media massa mengabarkan bahwa perusahaan asal Kanada ini memang telah merumahkan 35 persen tenaga kerjanya. Pihak BlackBerry sendiri kemudian menyatakan bahwa kebenarannya dengan merumahkan sekitar 200 pekerjanya di Waterloo dan Sunrise. Padahal pada September 2015 BlackBerry telah mem-PHK 200 pegawai yang bekerja di bidang desain dan hardware untuk perangkat BB10.
Pengurangan karyawan ini sendiri dilakukan oleh pihak BlackBerry untuk melakukan pemangkasan biaya operasional. Selain untuk pemangkasan, pemecatan karyawan oleh BlackBerry ini juga dilakukan sebagai bentuk efisiensi dari perusahaan untuk menghadapi pasar global karena penurunan omset penjualan.

2016, BlackBerry Fokus Bisnis Software

Selain melakukan pemangkasan 35 persen karyawannya, pada tahun ini BlackBerry juga akan memfokuskan bisnisnya pada perangkat lunak (software). Hal ini sendiri dinyatakan oleh Head of Global Sales BlackBerry Carl Wiese yang menyatakan bahwa perusahaannya akan meninggalkan bisnis hardware yang omsetnya terus menurun dan akan lebih fokus mengembangkan software (perangkat lunak). Dalam usahanya ini sendiri, BlackBerry telah memperoleh capaian yang cukup baik dalam pengembangan perangkat lunak tersebut.

2016, BlackBerry Tawarkan Smartphone Android

Walau menyatakan akan fokus pada bisnis perangkat lunak (software), namun pihak BlackBerry melalui Carl Wiese mengatakan bahwa mereka tidak terlalu spesifik dan yakin untuk menghentikan bisnis #smartphone dalam waktu dekat. Pada kenyataannya, setelah meluncurkan BlackBerry Priv, perusahaan asal Kanada ini masih bergerak untuk mengembangkan hardware. Yang terbaru di tahun 2016 ini BlackBerry bahkan terdengar akan menggeluti lini perangkat Android. Larisnya smartphone berperangkat lunak Android ini memang kemudian membuat pihak BlackBerry tertarik demi meningkatkan penjualan dan omset.
CEO BlackBerry John Chen sendiri mengatakan bahwa pihaknya memang sedang serius untuk bisa mengembangkan bisnis smartphone berperangkat Android. Ketika diwawancara secara khusus oleh CNET pada gelaran Consumer Electronic Show (CES) di Las Vegas, Amerika tahun 2015 silam tersebut John Chen menyatakan bahwa BlackBerry 10 masih belum bisa mengangkat penjualan BlackBerry yang telah mengalami penurunan.
Dalam catatannya, penjualan BlackBerry per Oktober 2015 silam hanya mampu meraih satu persen pangsa pasar saja. Maka dari itu saat BlackBerry menyatakan akan membuat BlackBerry Android maka ada secercah harapan untuk bisa mengulang kesuksesan beberapa tahun sebelumnya. Apalagi smartphone Android buatan BlackBerry ini akan dibanderol dengan harga yang murah. Maka peningkatan pembelian dari produk terbaru ini diyakini mampu tercapai.
2016, BlackBerry Akan Hadir BlackBerry Rome dan BlackBerry Hamburg
Meski belum dirilis dan diluncurkan, namun keberadaan smartphone BlackBerry berbasis#software Android ini sudah mulai bocor. Bocoran dari produk BlackBerry terbaru tersebut adalah adanya dua perangkat yang akan dihadirkan dan diduga bernama BlackBerry Rome dan BlackBerry Hamburg. Harga kedua ponsel pintar Android buatan BlackBerry sendiri juga diketahui akan memiliki harga yang relatif murah dibandingkan Priv, produk Android BlackBerry sebelumnya.
Dari BlackBerry Priv yang berharga 700 dollar AS atau sekitar Rp9 juta lebih, maka harga dua BlackBerry Android ini hanya separuh harga BlackBerry Triv tersebut. Ya, harga Rome dan Hamburg ini diketahui dari bocoran yang ada hanya berharga antara 300 hingga 400 dollar AS atau sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta.

Sabtu, 19 Maret 2016

Memasukkan Gambar Di HTML

Memasukkan Gambar

Jika sebelumnya kita membahas bagaimana memformat text di HTML, maka sekarang kita akan coba ke teknik yang cukup sering kita pakai juga yaitu bagaimana memasukkan gambar ke dalam HTML
Ada 2 tahap untuk memasukkan gambar dalam HTML yaitu:
  1. Menentukan lokasi gambar
  2. Memasang kode gambar
Lokasi gambar adalah folder dimana gambar itu diletakkan berdasarkan letak file HTML yang mengaksesnya. Misalnya file html-nya ada di folder c:\website dan gambarnya ada di folder c:\website\images dengan nama gambarku.jpg maka berarti lokasi file gambarnya adalah
c:\website\images\gambarku.jpg
dan nanti di kode HTML-nya kita tulis seperti ini:
images/gambarku.jpg
Kemudian untuk memunculkan gambar, kita letakkan kode ini di file HTML:
<img src="LOKASI GAMBAR" alt="TEXT ALTERNATIF" />
LOKASI GAMBAR = lokasi dimana gambar itu berada lengkap dengan nama gambarnya
TEXT ALTERNATIF = Text yang muncul jika gambar yang kita tampilkan tidak muncul
Jika mengacu pada contoh diatas, berarti kodenya akan seperti ini:
<img src="images/gambarku.jpg" alt="Ini Gambarku"/>
Sudah paham? Insya Allah di artikel mendatang kita bahas bagaimana melakukan modifikasi terhadap gambar kita ini

Pengikut