Bila kau sedang berteduh di suatu tempat dengan sesekali mengunggah instastories
atas bahagia yang selalu kau pamerkan, sampaikan salamku kepada
seseorang di sebelahmu yang selalu kau banggakan. Malam ini gerimis
sedang merintikkan rindu di ingatanku, menuju waktu-waktu selepas Magrib
saat aku masih rutin menjemputmu di depan gerbang, menyalami bapak
kostan, menunggu kau keluar kamar, lalu kita berdua melaju di jalanan
sembari berdebat menu apa yang mau kita makan. Pertanyaanku masih sama, apa
aku akan kau kenang sebagai kisah indah semasa kuliah atau hanya
sekedar pengisi sepi karena yang kau tunggu tidak pernah ada waktu?
| Gerbang kostan, saksi tunggu juga temu dalam rindu.(source:wiranagara.id) |
Karena
tidak ada rindu yang suka dibiarkan menunggu maka aku selalu datang
tepat waktu untuk menjemputmu. Kadang kau sudah siap di depan pintu,
walau seringnya kau mengabariku untuk menunggu sebentar karena masih
siap-siap. Entah siap-siap seperti apa yang kau maksud karena apapun
yang kau rias atau kenakan akan selalu terlihat cantik di mataku.
Sudahlah, aku tidak terlalu memusingkan penampilanmu, aku hanya tidak
enak kala berbasa-basi dengan bapak kostanmu itu. Kau pasti ingat suatu
sore saat kita di beranda dan kau tertawa begitu keras hingga aku
dimarahi dan hampir diusir dari situ? Juga keributan malam saat kau
memintaku mengantarkan susu coklat yang ternyata kau hanya ingin sekedar
bertemu denganku? Ah, sepertinya kau lupa, atau aku yang terlalu dalam
mengenangmu.
Lulus
lebih lama dari teman seangkatan membuatku semakin terbiasa menemui
perpisahan, termasuk saat kau wisuda lebih dulu. Ya, untuk seorang kakak
tingkat yang kerap jadi buah bibir sekaligus asisten praktikum
tercantik buat apa berlama-lama di kampus. Nilai jelas bagus, PKL dan
KKN tepat waktu, juga banyak lelaki yang selalu rela berkorban untukmu.
Termasuk aku yang selalu mau kau repotkan walau setelahnya tak pernah
ada kisah berkelanjutan. Intinya, bisa dekat saja sudah membuatku
bahagia apalagi bisa memilikimu lebih lama. Bisa
dibilang aku ingin mencintaimu seperti Dimas mendamba Mbak Ruroh.
Tulus, sederhana, apa adanya, walau perasaan itu belum jelas
balasannya.
Kini
di saat kau mulai sibuk dengan segala urusan pekerjaan dan liburan,
bahkan pernikahan, aku baru saja akan merampungkan urusan perkuliahan.
Tepat saat semua ini tertulis aku sedang bersiap untuk pendadaran, fase
terakhir sebelum berkumpul dengan yang lainnya di yudisium kemudian
dirayakan di wisuda. Pada akhirnya segala yang terjadi di masa lalu
hanya bagian dari pembelajaran. Namamu mungkin tak tertulis dalam
skripsiku, namun tentangmu selalu menjadi daftar pustaka di hidupku.
Sebab setiap lirik dari lagu kesukaanmu kini selalu terngiang di
kepalaku, menusuk jantung, meletus dengan luapan lara yang tak
terhitung.
Oh, you. You turn my whole life so blue
drowning me so deep, I just can't reach myself again
Oh, you. Succesfully tore my heart
now it's only pieces, oh nothing left but pieces of you...
(Ten2Five - You)
Tak
perlu menyesal dan bersedih, dulu saat kita dekat juga kau jarang
mengucap terima kasih. Santai saja, aku hanya seorang melankoli yang
mudah terhanyut memori saat melintasi sudut-sudut jalan yang dulu pernah
bersama kita lewati. Selamat menjadi kamu yang kamu mau, bila suatu hari kau membuka galeri dan kau temukanku bersebelahan denganmu, crop saja fotoku asal tidak aku dari hatimu.
0 komentar:
Posting Komentar