Senin, 28 Agustus 2017

Kuliah Akan Berakhir, Kenangan Tetap Terukir (Wiranagara Re-Post)

Bila kau sedang berteduh di suatu tempat dengan sesekali mengunggah instastories atas bahagia yang selalu kau pamerkan, sampaikan salamku kepada seseorang di sebelahmu yang selalu kau banggakan. Malam ini gerimis sedang merintikkan rindu di ingatanku, menuju waktu-waktu selepas Magrib saat aku masih rutin menjemputmu di depan gerbang, menyalami bapak kostan, menunggu kau keluar kamar, lalu kita berdua melaju di jalanan sembari berdebat menu apa yang mau kita makan. Pertanyaanku masih sama, apa aku akan kau kenang sebagai kisah indah semasa kuliah atau hanya sekedar pengisi sepi karena yang kau tunggu tidak pernah ada waktu?

Gerbang kostan, saksi tunggu juga temu dalam rindu.(source:wiranagara.id)

Karena tidak ada rindu yang suka dibiarkan menunggu maka aku selalu datang tepat waktu untuk menjemputmu. Kadang kau sudah siap di depan pintu, walau seringnya kau mengabariku untuk menunggu sebentar karena masih siap-siap. Entah siap-siap seperti apa yang kau maksud karena apapun yang kau rias atau kenakan akan selalu terlihat cantik di mataku. Sudahlah, aku tidak terlalu memusingkan penampilanmu, aku hanya tidak enak kala berbasa-basi dengan bapak kostanmu itu. Kau pasti ingat suatu sore saat kita di beranda dan kau tertawa begitu keras hingga aku dimarahi dan hampir diusir dari situ? Juga keributan malam saat kau memintaku mengantarkan susu coklat yang ternyata kau hanya ingin sekedar bertemu denganku? Ah, sepertinya kau lupa, atau aku yang terlalu dalam mengenangmu.

Lulus lebih lama dari teman seangkatan membuatku semakin terbiasa menemui perpisahan, termasuk saat kau wisuda lebih dulu. Ya, untuk seorang kakak tingkat yang kerap jadi buah bibir sekaligus asisten praktikum tercantik buat apa berlama-lama di kampus. Nilai jelas bagus, PKL dan KKN tepat waktu, juga banyak lelaki yang selalu rela berkorban untukmu. Termasuk aku yang selalu mau kau repotkan walau setelahnya tak pernah ada kisah berkelanjutan. Intinya, bisa dekat saja sudah membuatku bahagia apalagi bisa memilikimu lebih lama. Bisa dibilang aku ingin mencintaimu seperti Dimas mendamba Mbak Ruroh. Tulus, sederhana, apa adanya, walau perasaan itu belum jelas balasannya. 

Kini di saat kau mulai sibuk dengan segala urusan pekerjaan dan liburan, bahkan pernikahan, aku baru saja akan merampungkan urusan perkuliahan. Tepat saat semua ini tertulis aku sedang bersiap untuk pendadaran, fase terakhir sebelum berkumpul dengan yang lainnya di yudisium kemudian dirayakan di wisuda. Pada akhirnya segala yang terjadi di masa lalu hanya bagian dari pembelajaran. Namamu mungkin tak tertulis dalam skripsiku, namun tentangmu selalu menjadi daftar pustaka di hidupku. Sebab setiap lirik dari lagu kesukaanmu kini selalu terngiang di kepalaku, menusuk jantung, meletus dengan luapan lara yang tak terhitung.
Oh, you. You turn my whole life so blue 
drowning me so deep, I just can't reach myself again 
Oh, you. Succesfully tore my heart 
now it's only pieces, oh nothing left but pieces of you...
(Ten2Five - You)
Tak perlu menyesal dan bersedih, dulu saat kita dekat juga kau jarang mengucap terima kasih. Santai saja, aku hanya seorang melankoli yang mudah terhanyut memori saat melintasi sudut-sudut jalan yang dulu pernah bersama kita lewati. Selamat menjadi kamu yang kamu mau, bila suatu hari kau membuka galeri dan kau temukanku bersebelahan denganmu, crop saja fotoku asal tidak aku dari hatimu.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut