Kepada yang lemah raganya juga remuk hatinya..
Mungkin
sekarang kau sedang berdiam di kostan sembari menatap tugas dan laporan
yang berjam-jam kau biarkan menumpuk tanpa ada niat mengerjakan.
Mungkin juga kau sedang keluar rumah sekedar mencari udara segar untuk
mengisi rongga hatimu yang lama berdebu. Atau mungkin saja kau malah
sedang sibuk mengurai perintah bos demi gaji per bulan yang seringnya
habis tanpa bisa kaujelaskan. Apapun yang sedang kau lakukan,
berusahalah untuk menjaga konsentrasi, sebab sekali saja kau lengah dan
memutuskan membuka sosial media, hancurlah kau digilas kenyataan dari masa-masa terlewatkan.
![]() |
| Satu meja berjuta luka. Dipotret oleh: @lukmanmuh (source:wiranagara.id) |
Bagaimana
tidak? Seseorang yang dengan merdunya sering mengeluh manja itu kini
semakin gencar memberitahu dunia akan kebahagiaannya. Lewat pose ngelendot lucu muncu-muncu di bahu, selfie
di pantai dengan bias kekasih baru di kacamata yang seakan-akan tidak
sengaja, atau foto resmi gaya lembar ijazah dari sang lelaki dan sang
perempuan yang ditata sebelahan di meja kantor dengan bumbu caption
mau menikah. Ya, seseorang yang pernah kau antarkan ke burjo
malam-malam, menemani dia belanja dari pagi buta, mengelus punggungnya
saat homesick itu kini tengah tersenyum menuju mahligai rumah tangga.
Kepada yang utuh namun rapuh tegar tetapi hambar..
Sedang apa? Sudah makan? Semalam tidur jam berapa? Nanti ada waktu? Jangan sibuk banget ih!
Mau ketemu, aku rindu! Tidak, kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya
ingin mengingatkan bahwa rutinitas di pesan masuk ponselmu itu sudah
musnah. Kau hanya bisa membacanya sebagai kesombongan semu yang kau
gunakan untuk menjawab pertanyaan teman-teman. Mau
seakrab apapun kau kini dengan mantanmu tetap saja dia sudah bukan
milikmu, mau serenggang apapun hubunganmu sekarang tetap saja dulu dia
yang paling kau sayang. Ikhlas belum bisa, balikan takut binasa.
Kau mulai menuju kafe atau kedai kopi atau pasar malam atau antrian BPJS atau apapun itu asal ramai dan bisa meredakan sepi di benakmu saat ini. Karena ke gunung kau malas packing,
ke pantai kena panas langsung pusing, ke luar negeri belum fasih
berbahasa asing. Tragis. Setiap ruang ingin kau jelajahi lebih jauh,
berharap temukan keajaiban yang membuat sakit hatimu sembuh. Namun apa
daya, jelajah langkahmu hanya membawamu kembali ke rentetan panjang
memori. Depan gerbang kostan yang menampung keriyaan sehabis menikmati
konser, atap toko yang kau gunakan untuk berteduh sehabis menonton film
di bioskop, juga sekre hima/unit yang jadi saksi kangen-kangenan
berkedok tanya jawab basa-basi tentang kepanitian. Kau tidak bisa pergi, kenangan itu akan terus menyapamu lagi dan lagi.
Kepada yang pingine move on malah mati alon-alon..
Begitulah
beberapa contoh secuil kisah dari hati yang belum mampu berpindah. Satu
masa yang justru selalu kita hindari. Kita lupa untuk menikmatinya,
kita terlalu sibuk menolak semua hal yang merenggut bahagia. Santai
saja, aku pun turut merasakan hal yang sama. Bingung mau kemana, membuka
sosial media hanya cemburu yang menyapa, mendekati sosok baru tak tahu
harus memulai dari mana. Payah! Tos dulu lah! :')
Namun
pernahkah kau membayangkan suatu hari penantianmu akan berhenti,
doa-doamu terkabul, sosok itu datang dan jauh lebih baik dari semua
khayalanmu selama ini. Datang dengan kesopanan, membawa ketentraman,
memelukmu dalam rasa nyaman. Seikat bunga? Seladang penuh dia
persembahkan wanginya! Kau mengusap matamu terus menerus hingga kelopak
matamu perih oleh bahagia. Dia nyata, benar-benar nyata! Sakit di hatimu
sembuh, hidupmu kembali utuh. Langit berubah merah muda, menaungimu
dalam kelembutan awan, kemudian jatuh lewat tetes demi tetes senyuman.
Asyik ya?
Asyik ndasmu.
Memangnya kamu sudah merasa pantas mendampingi dia? Mandi saja malas, kamar berantakan, tissue berserakan. Begitu yang namanya siap? Setelah resmi yang-yangan kau dan dia akan berbagi muka di setiap unggahan sosial media loh,
memangnya kamu sudah siap menurunkan gengsi? Sungguh suatu hal yang
menyebalkan bila setelah berpasangan namun yang kau unggah tetap selfie-selfie goda sana sini. Asli. Ingat; Irama
akan merdu jika ada keteraturan, kematangan komposisi, juga musik yang
berpadu serasi. Kamu? Sudahkah berpadu dari pikiran, tubuh, sampai
perasaan dalam keserasian harmoni lewat komposisi matang tanpa
bayang-bayang?
Maka
bersatulah kaum patah hati. Sebelum matahari meruntuhkan mendung di
matamu, ingatlah kita pernah sama-sama bingung menentukan hidup kemana
harus menuju. Jangan lupakan orang-orang yang selalu ada di setiap kau
meneteskan air mata. Berterima kasihlah kepada para musisi atas
lagu-lagu sendu ciptaannya yang tak pernah absen mengisi sepi. Cium
tangan para barista yang lewat racikan kopinya membuatmu mampu melewati
hari tanpa perlu minder akan pahit yang hinggap di hati. Peluk erat
buku-buku kesayangan yang setiap kata bijaknya membuatmu bisa sejenak
menunda luka.
Karena suatu hari yang pergi akan digantikan,
saat lalu telah kau ikhlaskan dan hatimu dipenuhi kesiapan.
![]() |
| Kepada kita semua, mari bersulang lara, mari berbagi tawa... |


0 komentar:
Posting Komentar