Sudah
separuh bulan Ramadhan berlalu dan belum kutemui wajah manismu mengendap
di cangkir kopiku. Tidak ada kemungkinan yang bisa kutakar dari
kenangan. Hari berlalu sebagai kesibukan yang menyublim bersama udara
untuk menyatu bersama namamu yang masih kuhirup di antara bianglala masa
lalu. Berputar namun tak bergerak. Kau masih menjadi poros dari setiap
langkahku yang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan. Sampai
di suatu senja aku teringat seplastik es buah yang diikat karet merah
muda sebagai menu buka puasa, dengan cinta yang kita nikmati dari
sedotan yang sama.
| Kopi malam ini, pahit yang selalu menemani.(Source:Wiranagara) |
Kubiarkan
diriku memaku di hadapan jendela, menatap pola kopi yang tertinggal di
bibir gelas, sembari menasbihkan tanya dalam pilu.
Apa kabar, kamu?
Di
antara lampu kendaraan yang melintas dari balik jendela, aku teringat
lingkar tangan kirimu yang memeluk pinggangku pada perburuan takjil
senja itu. Tangan kananmu bergerak bebas. Mencubit lenganku, memukul
pelan kepalaku dari belakang, juga menunjuk ke sudut-sudut jalan sambil
kita berdebat kemana kita akan berhenti. Jujur, bersamamu yang
kuinginkan hanyalah melaju. Kemana saja, asal telinga dan mataku berhias
senyum dan tawamu. Lalu rengekanmu membuyarkan lamunan dan kita
memutuskan untuk berbuka di pinggir jalan, sembari menghitung daun-daun
gugur dan menikmati kepak sayap burung menghias surya yang tenggelam.
Apakah takjil favoritmu masih risoles, kue lapis, dan es buah tanpa
irisan roti? Yang dulu pernah kita nikmati, yang kini aku kenang
sendiri.
Malam
pun kembali menyembunyikan bintang, menandai kau sebagai pusat terang.
Menyala di hatiku, hangat, mencairkan rindu yang lama membeku. Mengulang
semua cerewetmu sehabis tarawih di kedai kopi tempat biasa kita
bertemu. Membahas cabai yang kurang pedas di risolesmu, atau antrian di
tukang es yang lebih panjang dari oktaf suaramu. Kau masih menyanyi,
kan? Jangan berhenti, ya. Aku suka mendengar sayup nyanyianmu yang
membuatku tetap terjaga saat kita membelah bising jalanan.
Kemudian
kau kembali mencubit lenganku berulang kali, memencet hidungku, dan
menatap tajam kedua mataku untuk menyampaikan pesan jangan lagi
terlambat menjemputmu saat sahur. Aku cuma bisa tertawa menanggapi
ketusmu itu, lucu. Entahlah, aku selalu suka melihatmu cemberut. Kau
jadi lebih lepas bercerita tentang banyak hal, diselipi tawa yang
memenuhi ruangan, kau adalah ratu yang setiap tingkah lakunya selalu
kuterima menetap di singgasana. Sebelum akhirnya aku tersadar pipimu
yang menggembung saat cemberut itu kini sudah mendarat di telapak tangan
yang baru.
"Di sini, kembali,
kau hadirkan ingatan
yang seharusnya kulupakan,
dan kuhancurkan adanya..."
Bersama
lagu Rocket Rockers aku menulis kisah ini sebagai ucapan selamat atas
rencana pernikahanmu yang tinggal menghitung hari. Terima kasih sudah
memberiku ingatan Ramadhan terbaik di masa kuliah, dan semoga di
peluknya kelak kau tetap bisa berbagi kisah. Karena cerewetmu itu yang
membuatku betah menikmati waktu.
Semoga
kekasihmu mampu memilihkan cabai yang tepat untuk mengunyah risoles
favoritmu, sebab rasa pedas yang kau suka itu sudah lebih dulu menggores
air mataku.
"Letih di sini,
Ku ingin hilang ingatan..."
0 komentar:
Posting Komentar