Kalau
saja waktu itu namaku tidak tercantum dalam daftar hadir pesta perayaan
tukar cincinmu, mungkin saat ini aku masih berjuang untuk menyelamatkan
hidupmu dari status lajang. Sayangnya, berkali-kali aku mengusap mata
dan melipat-lipat undangan, pernikahanmu tetap dilaksanakan. Mau
tidak mau aku harus menerima kenyataan bahwa ketulusan bisa kalah oleh
kemampuan finansial, rasa cinta bisa takluk oleh kesempatan dan
kematangan usia, setidaknya saat itu kenyataan berkata demikian.
Ya, mau bagaimana lagi. Aku bukan Ko-Ching Teng yang dengan gagah berani
datang ke pernikahan Shen Cia-Yi lalu mencium mempelai pria agar bisa
mencium perempuan idaman. Ciuman yang membuat hening seisi ruangan.
Ciuman yang menginspirasi untuk berbuat hal yang sama bila suatu hari
orang yang dicinta tidak menikah dengan dirinya.
![]() |
| You Are the Apple of My Eye (2011) - Kisah cinta Ko-Ching Teng dan Shen Cia-Yi, film idola kaum patah hati. |
Sedih.
Kursi
pelaminan hari itu hanya mampu kulihat dari rentetan unggahan di Path
dan Instagram, dengan senyum serta keramaiannya masih jelas kuingat
sampai sekarang. Tepat setelahnya hari-hariku berisi sumpah serapah
mengutuk diri sendiri atas ketidakberdayaan menaklukan hati. Kata-kata
mulai kuajak berdiskusi untuk membentuk alinea, menjelajahi kecewa untuk
merubahnya menjadi paragraf penuh lara. Dua tahun setelahnya 'Distilasi Alkena'
lahir ke dunia. Sekumpulan kisah yang terbentuk dari air mata itu sudah
bisa kau peluk untuk merayakan duka lewat Gramedia di seluruh
Indonesia. Begitulah akhirnya patah hati membawa langkahku ke berbagai
hal ajaib hingga detik ini. Namun, buku itu juga membawa kebingungan
baru di hidupku.
Kenapa?
Ya, aku tidak pernah menyangka buku itu cukup diterima bahkan masuk ke nominasi tahap dua buku non fiksi terfavorit Anugerah Pembaca Indonesia 2016 yang diselenggarakan Goodreads Indonesia. Gila. Itu isinya curhat loh,
bukan suatu hal yang mampu menyelamatkan dirimu dari jerat ekonomi dan
gengsi duniawi. Kabar terbaru dari penerbit mengatakan bahwa Distilasi
Alkena yang tersebar hari ini adalah cetakan ke delapan. Pantas saja
semakin hari ada saja yang menagih kisah selanjutnya. Ekspektasi
meningkat, beban kian kuat, aku semakin terjerat. Kata-kata itu harus
aku lanjutkan namun ide baru belum juga kudapatkan. Jujur, hatiku sudah
tidak sepatah saat itu. Berkali-kali aku mencoba menuliskan rasa namun
tidak pernah ada keyakinan untuk melanjutkannya. Entah waktu telah
menyembuhkan atau luka telah aku ikhlaskan, yang jelas hidupku kini
dipenuhi kebingungan. Hingga akhirnya terlintas keinginan untuk
jalan-jalan, mencari inspirasi, memapah sisa duri yang menancap di hati.
Pergi.
![]() |
| Suasana di Seniman Coffee, Ubud, Bali. |
Ini
saatnya menghidupi mimpi. Membawa langkah pada perjalanan yang selalu
mengantarkan pengalaman dan pelajaran, membuat sadar bahwa semua yang
kita raih hanyalah seonggok kerdil di mata semesta. Itu yang selama ini
aku dapatkan saat berkunjung ke setiap kedai kopi di sudut kota.
Perbincangan indah di setiap meja selalu menawarkan pemandangan
menyenangkan. Aroma kopinya bercampur mesra dengan riuh tawa juga kelam
haru yang memenuhi ruangan. Indah sekali. Membuatku betah berlama-lama
memerhatikan dan membayangkan berbagai kemungkinan.
Tiba-tiba
muncul perempuan cantik sedang mengikat rambutnya di sebelahku, mata
kita langsung saling menatap, jantung kita saling berdegub, senyum kita
saling menyapa, dan pohon bicara mulai tumbuh di antara kita. Topik
menarik berbuah tanpa kenal musim, tangan kita saling bertukar genggam,
mengakar dalam kenyamanan yang memupuk subur janji-janji yang mulai
bersemi. Sayangnya kemarau sering berkunjung dengan kurang ajar. Cinta
pun layu sebelum berkembang, rindu itu mati sebelum muncul spasi, dan
daya khayalku tidak pernah diimbangi dengan kenyataan pasti.
Mana?
Sejauh
ini yang bisa kubanggakan hanya khayalan. Kalaupun aku berbincang
dengan perempuan di kedai kopi, tidak lama kemudian pasti terhenti saat
seorang lelaki datang menemui. Ya, rata-rata semua yang membuat hatiku
berminat statusnya sudah terikat. Hatiku stasiun, tempat pertemuan dan perpisahan membekas dengan luka sebagai satu-satunya kereta yang melintas.
Kau mengingatku saat kesedihan datang, lalu kau tinggalkanku saat
senyummu kembali terang. Belum lagi ucap manjamu saat kegalauan melanda.
Kau buat ponselku ramai oleh curahan duka, derai air mata, dan kalimat
kangen yang begitu menggoda. Begitu kutanya kapan bisa bertemu, kau
berkelit dengan alasan lelakimu. Lagi-lagi kalau sudah begini aku bisa
apa. Tanpa henti kau hujaniku dengan perasaan hampa.
Kejam.
Aku
ingin berhenti kauhadiahi sakit hati. Terlalu banyak kejutan menungguku
di depan, semua tentangmu harus kuhentikan. Setelah badai haru tiga
tahun lalu kuakui aku terlalu takut memulai hubungan, terutama pesona
perempuan yang dekat denganku harus punya pesona luar biasa, indah
dipandang juga syahdu diajak berbincang. Kenyataannya perempuan semacam
itu kalau bukan terbelenggu masa lalu ya pasti sudah memiliki kekasih,
apa lagi? Mau sedekat apapun lambat laun kita pasti tersisih. Memangnya
ada hati yang mampu adil berbagi kasih?
Sudah.
CUKUP.
Kini
saatnya berkemas, memeras duka hanguskan ampas, dan berjalan menemui
hal-hal baru yang berkilau emas. Mengakrabkan diri dengan rasa syukur,
menghirup lebih banyak terbit sang surya, memeluk lebih erat temaram
senja. Memenggal gengsi, melihat dunia dari lebih banyak sisi, membuka
diri siapa tahu ada sosok yang berpotensi.
| Senja di Seminyak, Bali. |
Tegapkan
langkah dan percaya. Walau senja belum sanggup membawa kehadiranmu,
paling tidak hatiku berhenti tenggelam di masa lalu...


0 komentar:
Posting Komentar